Cogito, Ergo Sum

Blogger news

Tuesday, July 1, 2014

On 8:13 AM by Zufar M Ihsan in ,    No comments


Ketidaktahuan kita tentang penyebab tidak bisa tidur sebagian disebabkan kita tak mengetahui kenapa kita perlu tidur. Yang kita tahu hanyalah kita merasa ada yang kurang jika tidak tidur. Dan kita tahu bahwa sekuat apa pun kita berusaha bertahan, pada akhirnya kita akan jatuh tertidur. Kita tahu bahwa setelah tujuh-sembilan jam tidur, kebanyakan dari kita akan bangun, dan 15-17 jam kemudian kita lelah kembali. Kita telah 50 tahun mengetahui bahwa tidur terbagi atas periode tidur gelombang-dalam dan tidur gerak mata cepat (rapid eye movement, REM). Pada fase REM, otak seaktif seperti saat kita bangun, tapi otot sadar dalam keadaan lumpuh. Kita tahu bahwa semua mamalia dan burung tidur. Lumba-lumba tidur dengan setengah otak terjaga, sehingga tetap dapat mengetahui keadaan di sekelilingnya di dalam air. Ikan, reptil, dan serangga semua juga beristirahat.

Masa istirahat ini memiliki konsekuensi. Binatang harus berdiam diri untuk waktu yang lama, dan pada saat itu rawan menjadi mangsa. Apa yang mungkin jadi imbalan bagi risiko sebesar itu? "Kalau tidur tidak memiliki fungsi yang benar-benar penting," peneliti tidur terkenal Allan Rechtschaffen pernah berkata, "itu merupakan kesalahan evolusi yang terbesar."

Teori yang paling diterima: tidur merupakan kebutuhan otak. Siapa yang tidak merasa lebih segar setelah tidur nyenyak di malam hari? Masalahnya adalah cara mengonfirmasi asumsi ini dengan data penelitian. Bagaimana tidur bisa membantu otak? Baru-baru ini, para peneliti di Harvard yang dipimpin Robert Stickgold menguji para mahasiswa dengan berbagai tes kompetensi, mengizinkan mereka tidur siang, lalu menguji mereka lagi. Para peneliti menemukan bahwa mahasiswa yang mengalami tidur REM meningkat kinerjanya dalam tugas pengenalan pola, seperti tata bahasa, sementara mahasiswa yang mengalami tidur gelombang-dalam lebih baik dalam menghafal. Peneliti lain menemukan bahwa otak yang tidur terlihat mengulangi pola penembakan neuron yang terjadi sebelum subjek tidur, seolah-olah pada saat tidur, otak memasukkan kejadian hari itu ke dalam ingatan jangka panjang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa konsolidasi memori mungkin merupakan salah satu fungsi tidur. Giulio Tononi, peneliti tidur terkenal, membalik logika itu dalam teorinya yang diterbitkan beberapa tahun yang lalu: Pada saat tidur, otak tampaknya membuang sinapsis atau sambungan yang berlebihan atau tidak perlu. Jadi, tujuan tidur mungkin untuk membantu kita mengingat hal yang penting, dengan membiarkan kita melupakan hal yang tidak penting.

Tidur mungkin juga memiliki tujuan fisiologis: Kenyataan bahwa pasien pengidap FFI (fatal familial insomnia) tidak berumur lama mungkin merupakan bukti penting. Banyak penelitian yang berusaha menemukan penyebab pasti kematian mereka. Apakah mereka benar-benar meninggal karena kurang tidur? Dan jika tidak, sejauh mana penyakit tak bisa tidur berkontribusi pada kondisi yang menyebabkan mereka meninggal? Beberapa peneliti menemukan bahwa kurang tidur menghambat penyembuhan luka pada tikus, sementara peneliti lain berpendapat bahwa tidur membantu meningkatkan sistem kekebalan. Tetapi, berbagai penelitian ini tidak punya cukup bukti.

Pada 1980-an, Rechtschaffen memaksa tikus tetap terjaga di laboratoriumnya dengan menempatkannya di atas piringan yang diletakkan di atas poros di atas tangki air. Jika tikus tertidur, piringan akan berputar dan melemparkannya ke air; saat jatuh ke air, tikus segera terbangun. Setelah sekitar dua minggu tak bisa tidur, semua tikus itu mati. Tapi, saat Rechtschaffen membedah mayat hewan itu, dia tidak menemukan perbedaan yang signifikan. Organnya tidak rusak; hewan itu tampaknya mati karena kelelahan—akibat tidak tidur. Sebuah percobaan lanjutan pada tahun 2002, dengan instrumen yang lebih canggih, lagi-lagi gagal menemukan "penyebab pasti kematian" tikus-tikus itu.

Di Stanford University saya mengunjungi William Dement, salah satu penemu tidur REM. Saya memintanya menceritakan apa yang diketahuinya, setelah 50 tahun penelitian, tentang penyebab kita tidur. "Sejauh yang saya tahu," jawabnya, "satu-satunya penyebab ilmiah kita perlu tidur adalah karena kita mengantuk."

Sayangnya, kebalikannya tidak selalu berlaku, kita tidak selalu mengantuk saat kita perlu tidur. Insomnia sudah mewabah di negara maju. Lima puluh sampai 75 juta orang Amerika, sekitar seperlima penduduknya, mengeluhkan masalah tidur. Lima puluh enam juta resep obat tidur ditulis di AS pada 2008, naik 54 persen dari empat tahun sebelumnya. Namun, sangat sedikit yang dicurahkan untuk memahami akar penyebabnya. Sebagian besar mahasiswa kedokteran hanya mendapat empat jam pelatihan tentang gangguan tidur; sebagian tidak dapat sama sekali.    

Beban sosial dan ekonomi akibat kurangnya penanganan sukar tidur sangat besar. Institute of Medicine, kelompok penasihat ilmiah nasional independen, memperkirakan hampir 20 persen dari semua kecelakaan kendaraan bermotor yang serius berkaitan dengan sopir yang mengantuk. Perkiraan biaya medis langsung akibat utang tidur nasional mencapai ratusan triliun rupiah di AS. Kerugian akibat menurunnya produktivitas kerja lebih tinggi lagi. Lalu, ada biaya yang lebih sulit dihitung—hubungan yang terganggu atau hancur, pekerjaan yang tak akan dilamar oleh orang yang lelah, dan berkurangnya kesenangan dalam menikmati hidup.

Jika ada masalah medis pada fungsi tubuh yang tidak sepribadi dan semisterius insomnia yang menyebabkan kerugian sebesar itu, pemerintah pasti sudah memeranginya. Namun, National Institute of Health hanya menyumbang sekitar dua triliun rupiah per tahun untuk penelitian tidur—setara dengan uang yang dikeluarkan produsen pil tidur populer Lunesta dan Ambien untuk iklan televisi selama satu musim pada 2008. Perjuangan melawan insomnia kebanyakan diserahkan kepada perusahaan obat dan pusat terapi tidur komersial.

Suatu sore tahun lalu saya mengunjungi Sleep Medicine Center di Stanford. Klinik yang didirikan pada 1970 ini adalah klinik pertama di AS yang didedikasikan untuk masalah insomnia, dan masih merupakan salah satu yang terpenting. Pusat terapi tidur ini dikunjungi lebih dari 10.000 pasien per tahun dan melakukan lebih dari 3.000 penelitian tidur malam.

Alat diagnostik utama di klinik ini adalah polysomnogram, dengan komponen utama elektroensefalograf (EEG), yang menangkap sinyal listrik dari otak pasien yang tidur. Saat tidur, otak kita melambat, dan pola sinyal listriknya berubah dari gelombang pendek bergerigi menjadi gelombang panjang mulus, seperti ombak laut yang kian mulus semakin jauh dari pantai. Di otak, gelombang pelan ini secara berkala terganggu oleh aktivitas mental tidur REM yang muncul tiba-tiba. Karena alasan yang tak diketahui, hampir semua mimpi kita terjadi pada fase tidur REM.

Sementara EEG merekam masa yang penuh perubahan ini, teknisi polysomnogram juga mengukur suhu tubuh, aktivitas otot, gerakan mata, irama jantung, dan pernapasan. Lalu, mereka menganalisis datanya untuk mencari tanda tidur abnormal atau sering terbangun. Apabila seseorang mengidap narkolepsi, misalnya, dia masuk ke fase tidur REM dari keadaan terjaga tanpa melalui tahap perantara. Pengidap insomnia familial fatal tidak pernah bisa melewati tahap pertama tidur; suhu tubuhnya naik dan turun dengan cepat.

FFI dan narkolepsi tidak dapat didiagnosis tanpa EEG dan perangkat pemantau lainnya. Namun, menurut Clete Kushida, direktur klinik itu, dia umumnya dapat mendeteksi masalah tidur pasien pada saat pertemuan pertama: Ada orang yang tidak bisa membuka matanya, ada pula yang mengaku lelah tetapi tidak bisa tidur. Yang pertama biasanya mengidap apnea tidur. Yang terakhir mengidap penyakit yang disebut Kushida "insomnia sejati".

Pada penderita apnea tidur obstruktif, relaksasi otot yang terjadi saat tidur menyebabkan jaringan lunak tenggorokan dan kerongkongan menutup, sehingga menghalangi jalan napas orang tersebut. Ketika otak menyadari tidak mendapatkan oksigen, orang tersebut terbangun, menarik napas, otak kembali mendapat oksigen, dan tidur kembali. Tidur malam penderita apnea ternyata merupakan rangkaian seratus tidur singkat. John Winkelman dari Brigham and Women's mengatakan bahwa di pusat penanganan tidurnya, dua pertiga dari yang diperiksa didiagnosis mengidap kondisi ini.

Apnea merupakan masalah serius, dapat menyebabkan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke. Tetapi, ini hanyalah penyakit tidur tidak langsung. Penderita insomnia sejati—orang yang didiagnosis mengidap penyakit yang disebut sebagian dokter-tidur sebagai insomnia psikofisiologis—adalah orang tidak bisa tidur atau tidak bisa tidur lama tanpa alasan yang jelas. Saat bangun, mereka tidak merasa telah beristirahat. Saat berbaring, otaknya tetap berputar. Kelompok ini berjumlah sekitar 25 persen pasien yang berkunjung ke klinik-tidur.

Sementara apnea dapat diobati dengan alat yang memaksa udara masuk ke tenggorokan orang yang tidur agar saluran udara tetap terbuka, pengobatan insomnia klasik tidak sesederhana itu. Akupunktur dapat membantu—cara ini sudah lama dipakai dalam pengobatan Asia dan kini tengah diteliti di pusat penanganan tidur University of Pittsburgh.

Biasanya, insomnia psikofisiologis diobati dengan pendekatan dua bagian. Pertama menggunakan pil tidur, yang terutama bekerja dengan meningkatkan aktivitas GABA, neurotransmiter yang mengatur tingkat kecemasan dan kewaspadaan tubuh. Meskipun sekarang lebih aman, pil tidur tetap dapat menyebabkan kecanduan psikologis. Banyak pengguna mengeluh bahwa tidur dengan pil tidur terasa berbeda, dan mereka merasa pusing ketika bangun, seperti kebanyakan minum alkohol.

Langkah kedua dalam mengobati penderita insomnia sejati biasanya dengan terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy, CBT). Dalam CBT, psikolog khusus mengajari penderita insomnia untuk menganggap masalah tidurnya dapat dikendalikan, bahkan dipecahkan—itu bagian kognitifnya—dan mempraktikkan "higiene tidur" yang baik. Higiene tidur yang baik terutama berisi saran yang sudah lama diakui kebenarannya: tidur di ruangan yang gelap, tidur hanya bila sudah mengantuk, dan jangan berolahraga sebelum tidur. Penelitian menunjukkan bahwa CBT lebih efektif daripada pil tidur untuk mengobati insomnia jangka panjang, tetapi masih banyak penderita yang tidak yakin.

Menurut Winkelman, CBT lebih bermanfaat bagi penderita insomnia yang memiliki penyebab psikologis. Istilah insomnia mencakup banyak kondisi. Antara FFI, yang sangat langka, dan apnea, yang sangat umum, ada hampir 90 gangguan tidur yang diketahui. Beberapa penderita insomnia menderita sindrom kaki resah (RLS), rasa sangat tidak nyaman di tungkai yang membuatnya sukar tidur, atau gangguan gerakan tungkai secara berkala (PLMD), yang menyebabkan orang menendang tanpa sengaja saat tidur. Penderita narkolepsi sering mengalami kesulitan baik untuk tidur maupun terjaga. Lalu, ada pula orang yang tidak bisa tidur karena depresi, dan orang yang depresi karena tidak bisa tidur. Yang lain memiliki masalah tidur karena pikun atau penyakit Alzheimer. Beberapa wanita terganggu tidurnya selama haid (perempuan dua kali lebih mungkin mengidap insomnia daripada laki-laki) dan banyak yang mengalaminya pada masa menopause. Tidur orang tua umumnya tidak senyenyak anak muda. Yang lain khawatir soal pekerjaannya atau khawatir akan kehilangan pekerjaan; sepertiga penduduk Amerika mengaku kurang tidur selama krisis ekonomi baru-baru ini. Dari semua penderita sukar tidur ini, pasien pengidap insomnia yang diakibatkan oleh penyebab internal fisik—mungkin kelebihan atau kekurangan berbagai neurotransmiter—yang mungkin paling sulit disembuhkan dengan CBT.

Namun, CBT berpeluang menyembuhkan sebagian besar kondisi di atas. Mungkin ini karena untuk waktu yang lama masalah insomnia hanya digeluti para psikolog. Dalam pandangan mereka, insomnia umumnya disebabkan oleh sesuatu yang dapat diobati dengan cara mereka, biasanya kecemasan atau depresi. Oleh karena itu, terapi perilaku kognitif meminta pengidap mencari masalah dalam perilakunya, bukan masalah pada tubuhnya. Winkelman ingin sekali kedua aspek tidur ini—fisik dan mental—lebih sering dipertimbangkan secara terpadu. "Tidur merupakan hal yang sangat rumit," katanya. "Mengapa kita tak berpikir bahwa mungkin juga ada sesuatu di rangkaian saraf yang rusak?"

Jika kita tidak dapat tidur, mungkin itu karena kita lupa caranya. Sebelum masa modern, orang tidur dengan pola yang berbeda, yaitu tidur saat Matahari terbenam dan bangun saat fajar. Selama bulan-bulan musim dingin, dengan waktu istirahat yang begitu lama, nenek moyang kita mungkin tidur beberapa babak di malam hari. Di negara berkembang, orang masih sering tidur dengan cara ini. Mereka tidur bersama-sama dan bangun sesekali di malam hari. Ada yang tidur di luar, di tempat yang lebih dingin dan sinar Matahari berefek lebih langsung pada ritme sirkadian. Pada tahun 2002, Carol Worthman dan Melissa Melby dari Emory University menerbitkan sebuah studi perbandingan tentang pola tidur dalam berbagai kebudayaan. Mereka menemukan bahwa di suku yang berburu dan meramu seperti !Kung dan Efe, "batas antara tidur dan bangun sangat cair." Tidak ada waktu tidur yang tetap, dan tidak ada yang menyuruh orang lain untuk tidur. Orang bangun apabila ada percakapan atau pertunjukan musik yang terdengar saat beristirahat dan menarik hatinya. Mereka mungkin bergabung, kemudian tidur lagi.

Tidak ada orang di negara maju yang tidur dengan cara ini sekarang, setidaknya tidak secara sengaja. Kita masuk ke tempat tidur pada waktu yang cukup tetap, sendirian atau bersama pasangan, di atas kasur empuk berlapis seprei dan selimut. Tidur kita tiap malam rata-rata sekitar satu setengah jam lebih sedikit daripada satu abad lalu. Sebagian penyebab epidemi insomnia atau penyakit sukar tidur mungkin hanya karena kita tidak memerhatikan biologi kita. Irama tidur alami remaja adalah bangun siang—tetapi mereka sudah masuk sekolah sebelum pukul 8. Pekerja shift malam yang tidur di pagi hari menentang irama purba dalam tubuhnya yang menyuruhnya terjaga untuk berburu atau meramu ketika langit bermandi cahaya. Namun, dia tak punya pilihan.

Kita membahayakan diri jika menentang kekuatan ini. Charles Czeisler dari Harvard menjelaskan bahwa tidak tidur selama 24 jam atau hanya tidur lima jam setiap malam selama seminggu setara dengan tingkat alkohol darah 0,1 persen. Namun, etika bisnis modern malah membanggakan hal itu. "Kita tak akan pernah berkata, "Orang ini pekerja yang hebat! Dia mabuk sepanjang waktu!'" Demikian tulis Czeisler dalam artikel Harvard Business Review tahun 2006.

Mulai tahun 2004, Czeisler menerbitkan serangkaian laporan dalam jurnal medis berdasarkan penelitian yang dilakukan kelompoknya pada 2.700 dokter residen tahun pertama. Para pria dan wanita muda ini bekerja shift yang lamanya mencapai 30 jam, dua kali seminggu. Penelitian Czeisler mengungkapkan risiko kesehatan masyarakat yang sangat besar yang diakibatkan kurang tidur ini. "Kami mendapati bahwa satu dari lima dokter residen tahun pertama mengaku melakukan kesalahan yang terkait kelelahan yang mengakibatkan pasien cedera," katanya kepada saya pada musim semi 2009. "Satu dari 20 mengaku melakukan kesalahan yang terkait kelelahan yang mengakibatkan kematian pasien." Ketika Czeisler menerbitkan informasi ini, dia mengira rumah sakit akan berterima kasih padanya. Sebaliknya, malah banyak yang "memasang benteng". "Saya yakin suatu hari nanti orang kelak menganggap kebiasaan ini sebagai praktik barbar."

Sekarang mari kita bahas soal tidur siang. Waktu tidur siang tradisional sesuai dengan penurunan alami ritme sirkadian setelah makan siang. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang tidur siang sebentar umumnya lebih produktif dan bahkan mungkin memiliki peluang lebih kecil untuk kena serangan jantung. Bangsa Spanyol-lah yang membuat tidur siang terkenal. Sayangnya, jarak antara rumah dan kantor orang Spanyol sekarang tidak cukup dekat untuk pulang dan tidur siang. Sebaliknya, sebagian malah menggunakan waktu istirahat untuk berlama-lama makan siang dengan teman dan kolega. Setelah menghabiskan waktu dua jam untuk makan siang, pekerja Spanyol kembali bekerja hingga pukul tujuh atau delapan. Setelah itu pun, mereka tidak selalu pulang ke rumah. Mereka malah keluar untuk minum-minum atau makan malam, acara utama TV mereka baru saja berakhir.

Akhir-akhir ini Spanyol mulai menganggap serius masalah kurang tidur ini. Kini, polisi menanyai pengendara yang terlibat kecelakaan serius, berapa lama mereka tidur malam sebelumnya. Dan baru-baru ini pemerintah memperpendek jam kerja para pegawainya agar mereka pulang ke rumah lebih awal.

Yang memotivasi Spanyol mengambil tindakan ini bukanlah tingkat kecelakaan—termasuk yang tertinggi di Eropa Barat—tetapi produktivitas mereka yang tidak berkembang. Orang Spanyol menghabiskan lebih banyak waktu di tempat kerja, tetapi produktivitasnya lebih rendah daripada sebagian besar tetangga Eropa-nya. "Lama bekerja tak sama dengan menyelesaikan pekerjaan," tulis Ignacio Buqueras y Bach, seorang pengusaha berusia 68 tahun yang memimpin upaya agar orang Spanyol tidur lebih awal, melalui surat kabar di Madrid baru-baru ini.

Pada 2006, komisi yang dibentuk Buqueras untuk mengubah hal ini menjadi bagian pemerintah Spanyol. Dua tahun kemudian, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri salah satu rapat komisi ini di gedung samping Congreso de los Diputados, majelis rendah Spanyol. Kalangan atas Spanyol modern berbicara tentang kecelakaan akibat pekerja yang lelah, beban ganda perempuan Spanyol akibat jam kerja yang panjang dan tugas rumah tangga, serta anak-anak yang tak mendapat haknya untuk tidur sepuluh sampai dua belas jam sehari.

Buqueras menghidupkan suasana, dia menyuruh pembicara menyampaikan pendapatnya "sesingkat telegram". Tapi, lampu redup dan udara hangat. Di kalangan peserta terlihat beberapa kepala mulai merosot ke dada, kemudian terangkat kembali saat mereka melawan kantuk, kemudian matanya semakin tertutup, kertas agenda rapat jatuh ke pangkuan, mereka mulai melunasi utang tidur negara mereka.

Sumber: National Geographic Indonesia
ngi.cc/f2r