Cogito, Ergo Sum

Blogger news

Friday, May 9, 2014

On 8:18 AM by Zufar M Ihsan in ,    No comments
Bumi, 6 juta km dari Bumi, Diambil oleh Voyager 1, 1990
Pada 14 Februari 1990, wahana penjelajah Voyager yang sedang menginggalkan tata surya diperintahkan oleh NASA untuk memutar kameranya kembali ke arah bumi untuk mengambil gambar bumi atas perintah Carl Sagan, astronom Amerika.

Dalam bukunya, Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space, Carl Sagan menceritakan pemikirannya tentang foto tersebut secara mendalam.


Dari titik yang sangat jauh, Bumi mungkin tidak terlihat penting. Tapi untuk kita, semua berbeda. Renungkan lagi titik itu. Itulah tempatnya. Itulah rumah. Itulah kita. Di atasnya, semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang kamu pernah dengar, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, ideologi, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan pengumpul, setiap pahlawan dan pengecut, setiap pendiri dan penghancur peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu, ayah, dan anak bercita-cita tinggi, penemu dan petualang, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi korup, setiap "bintang", setiap "pemimpin besar", setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah spesies kita hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.
Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya jagat raya.
Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan pemimpin sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa fana di sepotong kecil sebuah titik. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan oleh orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa dalam kebencian mereka.
Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.
Bumi adalah satu-satunya dunia yang sejauh ini diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya untuk sementara, yang bisa menjadi penyelamat spesies kita. Kunjungi? Ya. Menetap? Belum saatnya. Suka atau tidak, untuk saat ini Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup.
Sering dikatakan bahwa astronomi adalah suatu hal yang merendahkan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini. Bagiku, citra ini memperjelas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik satu sama lain, dan menjaga serta merawat satu-satunya rumah yang kita kenali bersama, sang bintik biru pucat.